Senin, 09 November 2009

FATHIMAH BINTI WALID

FATHIMAH BINTI WALID

                Beliau adl Ummu Hakim binti al-Harits bin Hisyam bin Mughirah al-Makhzumiyah. Beliau adl putri dari saudaranya Abu Jahal Amru bin Hisyam yg menjadi musuh Allah dan Rasul-Nya. Adapun ibu beliau bernama Fathimah binti al-Walid. Sesungguhnya Ummu Hakim diberi ni’mat berupa akal yg cemerlang dan hikmah yg fasih. Ayahanda beliau yakni al-Haris menikahkan beliau pada masa jahiliyah dgn putra pamannya yaitu Ikrimah bin Abu Jahal yg mana dia adl salah seorang dari orang-orang yg telah diumumkan Rasulullah utk dibunuh. Ketika kaum muslimin mendapat kemenangan dan kota Mekah telah dibuka Ikrimah bin Abu Jahal melarikan diri ke Yaman krn dia mendengar ancaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya. Manusia masuk agama Allah dgn berbondong-bondong masuk Islamlah al-Haris bin Hisyam dan juga putrinya yaitu Ummu Hakim dan baguslah keislamannya. Ummu Hakim termasuk wanita yg berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia merasakan manisnya iman yg telah memenuhi kalbunya sehingga kemudian ia ingin agar orang yg paling dia cintai dan paling dekat dengannya yaitu suaminya Ikrimah bin Abu Jahal merasakan manisnya iman sebagaimana yg beliau rasakan. Kebijakan dan kejernihan akalnya telah menuntun beliau utk menghadap Rasulullah saw utk meminta keamanan bagi suaminya bila dia masuk Islam. Alangkah girangnya hati beliau mendengar jawaban Rasulullah saw sang pemilik jiwa yg besar yg mau memaafkan dan menjamin keamanan jiwanya. Selanjutnya Ummu Hakim segera bertolak utk mengejar suaminya yg melarikan diri dgn harapan beliau dapat menemukannya sebelum kapal berlayar. Beliau menempuh jalan yg sulit dan membawa perbekalan yg minim namun tidak berputus asa beliau tidak merasa lemah krn tujuan yg agung telah meringankan penderitaan yg banyak dan banyak lagi. Takdir Allah menghendaki agar beliau dapat bertemu dgn suaminya di sebuah pantai yg tatkala itu kapal nyaris hendak berlayar. Selanjutnya Ummu Hakim berteriak kepada suaminya “Wahai putra pamanku?. aku datang kepada kamu krn utusan manusia yg paling suka perdamaian manusia yg paling berbakti sebaik-baik manusia maka janganlah engkau membinasakan dirimu aku telah meminta jaminan keamanan bagimu!” Ikrimah berkata “Apakah engkau benar-benar telah melakukannya?” “Benar” jawab Ummu Hakim. Kemudian beliau menceritakan kepada suaminya tentang akidah yg telah memenuhi kalbunya dan telah beliau rasakan manisnya dan bahwa beliau belum masuk Islam kecuali setelah beliau mengetahui bahwa ternyata Islam adl agama yg sempurna dan bahwa Islam itu tinggi tiada yg lbh tinggi darinya. Beliau ceritakan pula tentang pribadi Rasul yg mulia dan bagaimana pula beliau memasuki Mekah dgn menghancurkan berhala-berhala di dalamnya serta pemberian maaf beliau kepada manusia dgn jiwa yg besar dan jiwa beliau terbuka bagi tiap manusia utk memaafkan. Inilah kemenangan bagi Ummu Hakim ra yg telah menabur benih yg baik pada jiwa suaminya hingga selanjutnya beliau kembali bersama suaminya utk menghadap Rasulullah saw dan Ikrimah mengumumkan keislamannya di hadapan Rasulullah dan beliau memulai lembaran barunya dgn Islam yg hampir saja dia terdampar dalam kegelapan Jahiliyah dan paganisme. Maka Rasulullah saw membuka kedua tangannya utk menyambut kembalinya seorang pemuda secara total yg hendak menunjukkan loyalitasnya kepada Allah dan Rasulnya. Selanjutnya Ikrimah ra senantiasa meneguk dari sumber akidah Islamiyah hingga memancarlah pada jiwanya keimanan yg tulus dan kecintaan yg murni serta mendorong beliau terjun ke dalam kancah peperangan sedangkan di belakangnya adl pengikutnya yg masing-masing mampu memanggul senjata. Di dalam kancah pertempuran beliau membai’at kepada sahabat-sahabatnya utk mati di jalan Allah Azza wa Jalla dia tulus utk mencari syahid sehingga Allah mengabulkannya beliau berhasil meraih indahnya syahid di jalan Allah. Akan tetapi Ummu Hakim sebagai wanita mukminah sedikit pun tidak bersedih hati beliau tetap sabar meskipun saudara ayah dan bahkan suaminya telah syahid di medan perang. Sebab bagaimana mungkin beliau bersedih hati padahal beliau berangan-angan agar dirinya dapat meraih syahid sebagaimana yg telah berhasil mereka raih? Dan syahid adl angan-angan dan cita-cita tertinggi seorang mukmin yg shadiq. Setelah berselang beberapa lama dari kesyahidan suaminya yakni Ikrimah ra beliau dilamar oleh seorang panglima kaum muslimin dari Umawiyah yg bernama Khalid bin Sa’id ra. Tatkala terjadi perang Marajush Shufur Khalid hendak mengumpuli beliau namun Ummu Hakim menjawab “Seandainya saja engkau menundanya hingga Allah menghancurkan pasukan musuh.” Khalid berkata “Sesungguhnya saya merasa bahwa saya akan terbunuh.” Ummu Hakim berkata “Jika demikian silahkan.” Maka Khalid melakukan malam pengantin dgn Ummu Hakim di atas jembatan yg pada kemudian hari dikenal dgn jembatan Ummu Hakim. Pada pagi harinya mereka mengadakan walimah utk pengantin. Belum lagi mereka selesai makan. Pasukan Romawi menyerang mereka hingga sang pengantin laki-laki yg juga sebagai panglima perang terjun ke jantung pertempuran. Ia berperang hingga syahid. Maka Ummu Hakim mengencangkan baju yg beliau kenakan kemudian berdiri utk memukul pasukan Romawi dgn tiang kemah yg dijadikan walimatul urs dan bahkan beliau mampu membunuh tujuh orang di antara musuh-musuh Allah. Alangkah indahnya malam pertamanya dan alangkah indahnya waktu paginya. Begitulah para wanita mukminah mujahidah dan yg bersabar merayakan malam pertamanya di medan perang kemudian pagi harinya berjihad dan berperang.Hal ini tidaklah mengherankan krn ternyata Ummu Hakim adl putri dari saudara wanitanya “saifullah al-maslul” seorang panglima yg pemberani yaitu Khalid bin Walid ra. Semoga Allah merahmati Ummu Hakim seorang wanita mukminah shadiqah pencetak para pahlawan setia dan tulus mengentaskan suaminya dari kesesatan dan kekafiran menuju cahaya Islam. Beliau juga berperang dgn jiwanya memerangi musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga Allah membalas pengorbanannya terhadap diennya dgn balasan yg baik dan semoga Allah mejadikan putri-putri kita saudari-saudari kita dan istri-istri kita termasuk orang-orang yg mendengarkan perkataan kemudian mengikuti yg terbaik. Sumber Nisaa’ Haular Rasuuli Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Mushthafa Abu Nashr asy-Syalabi Al-Islam

Siapakakah yang akan di korbankan nabi Ibrahim

 Tentang perselisihan Penyembelihan yang di korbankan oleh nabi Ibrohim
 by; hajjelmuqtashidy


sumber; assunah.or.id
oleh; ahmad sarwat Lc.

         Kalau kita telusuri kitab-kitab tafsir, terus terang sebenarnya ada juga para mufassirin yang menafsrikan bahwa yang disembelih itu adalah Nabi Ishaq as dan bukan Nabi Islamil as, namun argumen atau hujjah mereka yang mengatakan hal itu terlalu lemah bila mengadapi argumentasi jumhur yang mengatakan bahwa yang disembelih itu adalah Nabi Ismail as.
Perbedaan itu dkarenakan memang tidak tercantumnya nama Nabi Ismail secara eksplisit di dalam ayat yang menceritakan tentang kisah penyembelihan dalam surat Ash-Shaaffaat ayat 99-102.
Sedangkan kita mengatakan bahwa yang disembelih adalah nabi Ismail as. dengan dasar-dasar sebagai berikut:
Hadits Rasulullah SAW
Rasulullah SAW telah bersabda dalam sebuah hadits yang menceritakan tentang dirinya.
Aku adalah anak keturunan dua orang zabihain .
.
Yang dimaksud dengan dua orang zabihain adalah dua orang yang dalam hidupnya terancam akan disembelih. Yang pertama adalah ayah kandungnya langsung yaitu Abdullah. Dan kedua adalah kakek buyutnya yaitu Ismail. Karena Nabi Muhammad memang keturunan dari Nabi Ismail as., bukan keturunan dari Nabi Ishaq as.
Dan julukan Ibnu Zabihain adalah julukan yang terkenal, karena diriyawatkan bahwa orang Arab pun menyapa beliau SAW dengan panggilan itu.
Kisah tentang ayah kandung Rasulullah SAW yang juga terancam mau disembelih adalah kisah yang juga sudah kita kenal yaitu nazar kakeknya Abdul Muttalib. Sang kakek ini ketika menggali sumur zamzam pernah bernazar untuk menyembelih anak. Ketika berhasil menggali sumur zamzam, maka Abdul Muttalib berkewajiban untuk melaksanakan nazar, lalu diundilah dengan menggunakan anak panah, namun selalu keluar nama Abdullah anaknya yang sangat dicintainya itu. Sehingga setelah beberapa kali selalu nama Abdullah yang keluar, akhirnya ada orang yang menasehatinya untuk menggantinya dengan 100 ekor unta. Barulah setelah Abdul Muttalib menyembelih 100 ekor unta, tidak lagi keluar nama Abdullah dari anak panah undian.
Argumen Abu Amru bin Al-Ala
Diriwayatkan dari Al-Ashmai bahwa dia bertanya kepada Abu Amru bin Al-Ala tentang siapakah sesungguhnya anak nabiu Ibrahim yang disembelih? Ismail-kah atau Ishaq-kah?
Beliau menjawab, ”Wahai Asmai, di mana otakmu? Sejak kapan Nabi Ishaq itu tinggal di Makkah. Yang di Makkah itu adalah Nabi Ismail as. Dialah yang membangun Ka’bah bersama ayahnya. Dan tempat penyembelihan itu adanya juga di Makkah.
Dalil Ayat Quran: Tentang Ciri Nabi IsmailMeski tidak disebutkan secara eksplisit, namun ayat Quran menunjukkan bahwa yang disembelih itu adalah Ismail, bukan Ishaq. Buktinya, ketika Qurna menyebut nama Ismail, beliau disifati dengan sifat penyabar .
Dan Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar.
Dan yang dimaksud dengan sabar pada Ismail adalah sabarnya atas penyembelihan. Dan selain itu Allah juga mensifati beliau dengan sifat Shadiqul Wa’di atau orang yang menepati janjinya.
Dan ceritakanlah kisah Ismail di dalam Al-Quraan. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.
Dan yang dimaksud dengan yang menepati atau benar janjinya adalah Ismail yang telah berjanji untuk sabar menghadapi cobaan dari Allah untuk disembelih, lalu beliau menepati janjinya untuk tetap bersabar.
Dalil Ayat Qur’an Tentang Kondisi Nabi Ishaq as
Sedangkan sebaliknya, kalau kita teliti secara cermat, Allah SWT menyebutkan tentang kondisi Nabi Ishaq yang memiliki anak bernama Yaqub. Silahkan perhatikan ayat berikut:
Dan isterinya berdiri lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang Ishaq dan setelah Ishaq: Ya’qub.
Kalau ingin dipaksakan bahwa yang disembelih adalah Nabi Ishaq, maka ada dua kemungkian kapan turunnya perintah penyembelihannya.
Kemungkinan pertama: Perintah penyembelihan itu sebelum lahirnya anak Ishaq yaitu Yaqub. Dan kemungkinan ini jelas tidak bisa diterima. Mengapa? Bagaimana mungkin Allah memerintahkan untuk menyembelih Ishaq padahal sementara itu Allah juga memberi informasi bahwa Ishaq itu akan punya anak yang bernama Yaqub. Jadi seolah-olah sejak awal perintah untuk menyembelih Ishaq itu sudah ketahuan akhirnya bahwa Ishaq tidak akan mati, lantaran ada informasi bahwa nanti dia akan punya anak yang namanya Yaqub. Kalau Ibrahim tahu bahwa perintah penyembelihan itu pasti akan diganti dengan seekor kambing dan bahwa anaknya itu terus akan hidup dan malah akan punya anak segala, namanya bukan ujian, kan? Tapi main-main.
Kemungkinan kedua: Perintah untuk menyembelih Ishaq itu setelah Ishaq punya anak yang bernama Yaqub. Artinya, bisa saja perintah itu datang dan Ishaq sudah dewasa dan bahkan sudah punya anak. Ini malah lebih tidak bisa diterima lagi, sebab langsung bertentangan dengan ayat Al-Quran. Sebab mengenai kisah penyembelihan anak Ibrahim itu, Allah menyebutkan sebagai berikut:
Maka tatkala anak itu sampai berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.
Jadi usia anak yang disembelih itu adalah ketika masih muda dan baru bisa berusaha berjalan menyusul ayahnya. Bukan anak yang sudah punya anak lagi atau sudah jadi bapak buat orang lain.
Sehingga dua kemungkinan itu sama-sama tertolak.
Ayat Al-Quran: Urut-urutan Kisah
Semua sepakat bahwa anak Nabi Ibrahim yang pertama adalah Ismail dan yang kedua adalah Ishaq. Sebelum punya anak, Ibrahim memohon kepada Allah agar diberi anak.
Ya Tuhanku, Berilah Aku keturunan yang shalih.
Karena tidak mungkin Ibrahim meminta anak ketika sudah punya anak pertama. Secara logika, orang yang berdoa meminta anak adalah orang yang belum punya anak.
Lalu Allah mengabulkan doa Ibrahim dengan firman-Nya:
Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.
Dan ayat seterusnya menceritakan tentang anak pertama yang akan disembelih itu. Jadi amat jelas bahwa yang disembelih adalah anak pertama yang bernama Ismail karena selesai Allah memberitakan bahwa doa Ibrahim dikabulkan dan diberi anak, langsung ayat berikutnya berbicara tentang kisah penyembelihan anaknya. Selesai kisah penyembelihan anak, baru Allah berkisah tentang anak Ibrahil yang lain yaitu Ishaq.
Amat tidak logis bila yang disembelih adalah Ishaq, karena bukan demikian urut-urutan kisahnya.
Khabar Tentang Kisah Penyembelihan di Makkah
Selain semua hujjah di atas, masyarakat Makkah memang sangat mengenal kisah penyembelhan itu. Dan yang utama adalah kisah penggantungan tanduk kambing di Ka’bah. Dan itu menunjukkan bahwa anak Ibrahim yang disembelih adalah yang tinggal di Makkah.
Sedangkan bila mau dikatakan bahwa yang disembelih adalah Ishaq, maka seharusnya tanduk kambing yang digantung itu bukan di Makkah tapi di Baitul Maqdis, Syam.
Dengan demikian, memang kuatlah pendapat yang mengatakan bahwa anak yang disembelih itu adalah Ismail dan bukan Ishak. Baik dengan dalil hadits yang matsur, keterangan tafsir antara satu ayat dengan ayat lain, kenyataan sejarah dan juga logika.
Namun tidak salah juga untuk kita tahu apa hujjah/argumentasi mereka yang mengatakan bahwa anak yang disembelih itu adalah Ishaq.
Ayat Quran
Mereka mengatakan bahwa ayat Quran menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim Hijrah dan maksudnya adalah ke Syam . Setelah itu muncul ayat yang menyebutkan kisah penyembelihan anak . Jadi yang disembelih adalah Ishak karena Ishaq yang tinggal di Syam.
Hujjah ini terkoreksi dengan sendirinya, sebab ayat yang menceritakan bahwa Ibrahim hijrah ke Syam itu disisipi doanya yang meminta anak dan ayat yang menceritakan diberinya Ibrahim seorang anak . Baru ayat berikutnya kisah tentang penyembelihan . Jadi 4 ayat itu berbeda waktunya. Ayat 99 terjadi ketika beliau hijrah dari Iraq ke Syam, ayat 100 terjadi di Syam ketika beliau belum punya anak, karena bila yang dia sudah punya anak sebelumnya, tidak mungkin doanya minta anak. Lalu ayat selanjutnya di Makkah ketika beliau dianugerahi anak pertama yaitu Ismail dan berikutnya penyembelihan Ismail itu juga di Makkah .
Dalil Hadits
Ada hadits yang isinya menyebutkan demikian:
Rasulullah SAW ditanya tentang manakah nasab yang paling mulia. Beliau SAW menjawab, ”Yusuf Siddiqullah, bin Yaqub Israilullah, bin Ishaq Zabihullh bin Ibrahim Khalilullah.
Namun sayang sekali hadits ini tidak kuat dan sementara ulama mengatakan bahwa semua julukan itu bukan asli hadits tapi hanya dari perawinya saja. Sehingga kata-kta Ishaq Zabihullah bukan teks asli dari hadit melainkan tambahan dari perawi. Dan tentu saja tidak bisa diterima sebagai sabda Rasulullah SAW.
Tapi menurut sebuah riawayat bahwa yang berpaham akan hal ini adalah: Umar ra, Ali ra, al-Abbas ra, Ibnu Masud dan Kaab Al-Ahbar. Selain itu juga ada Ikrimah, Said bin Jbair, As-Suddi, Az-zuhri dan Muqatil.
Sebaliknya yang mengatakan bahwa anak yang disembelih adalah Ismail antara lain adalah: Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Said bin al-Musayyib, Al-Hasan, Mujahid dan Al-Kalbi.
Semua ini bisa Anda baca Pada beberapa kitab tafsir seperti Al-Qurthubi, At-Tafsir Al-Kabir karya Al-Fakhrurrazi, Tafsir Al-Baidhawi serta Tafsir Ibnu Katsir.
Wallahu Alam Bish-shawab, wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.


                                                   
                                                              Ahmad Sarwat, Lc.

Tsabit bin Ibrohim

Kisah Tsabit bin Ibrahim


From: hajjelmuqtashidy
Seorang lelaki yang saleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat Sebuah apel jatuh keluar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah membuat air liur Tsabit terbit, apalagi di hari yang panas dan tengah kehausan. Maka tanpa berpikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang lezat itu. akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahwa buah itu bukan miliknya dan dia belum mendapat ijin pemiliknya.
Maka ia segera pergi kedalam kebun buah-buahan itu hendak menemui pemiliknya agar menghalalkan buah yang telah dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja dia berkata, "Aku sudah makan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya". Orang itu menjawab, "Aku bukan pemilik kebun ini. Aku Khadamnya yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya".
Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, "Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini." Pengurus kebun itu memberitahukan, "Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalan sehari semalam".
Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orang tua itu, "Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Rasulullah Saw sudah memperingatkan kita lewat sabdanya : "Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka"
Tsabit pergi juga ke rumah pemilik kebun itu, dan setiba di sana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata," Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Karena itu maukah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu ?"
Lelaki tua yang ada dihadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba, "Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat." Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu karena takut ia tidak bisa memenuhinya. Maka segera ia bertanya, "Apa syarat itu tuan ?" Orang itu menjawab, "Engkau harus mengawini putriku !"
Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, "Apakah karena hanya aku makan setengah buah apelmu yang keluar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu ?"
Tetapi pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya, "Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang yang lumpuh!"
Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan seperti itu patut dia persunting sebagai istri gara-gara setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, "Selain syarat itu aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan !"
Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, "Aku akan menerima pinangannya dan perkawinanya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul 'alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta'ala".
Maka pernikahan pun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkawinan usai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui istrinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam ,"Assalamu'alaikum..."
Tak dinyana sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi jadi istrinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu , dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya . Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi istrinya itu menyambut uluran tangannya.
Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini. "Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada dihadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula", Kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berpikir, mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan yang sebenarnya ?
Setelah Tsabit duduk di samping istrinya , dia bertanya, "Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta . Mengapa ?" Wanita itu kemudian berkata, "Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah".
Tsabit bertanya lagi, "Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa?"
Wanita itu menjawab, "Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah. Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan ?" Tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan istrinya. Selanjutnya wanita itu berkata, "aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta'ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Ta'ala".
Tsabit amat bahagia mendapatkan istri yang ternyata amat saleh dan wanita yang memelihara dirinya. Dengan bangga ia berkata tentang istrinya, "Ketika kulihat wajahnya... Subhanallah , dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap".
Tsabit dan istrinya yang salihah dan cantik itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke seluruh penjuru dunia. Itulah Al Imam Abu Hanifah An Nu'man bin Tsabit. (dikutip 1994/95